Halaman

Sabtu, 15 Januari 2011

Pertentangan Sosial Dan Integrasi

Di dalam kehidupan bermasyarakat, sebuah kelompok pastilah mempunyai individu – individu yang berbeda – beda yang menyebabkan terjadinya perbedaan sebuah pendapat atau perbedaan sebuah pemikiran. Perbedaan tersebut dapat berubah menjadi pertentangan, dimana sebuah kelompok atau individu menyatakan pendapat atau pemikirannya yang memaksakan. Bila sebuah pertentangan dalam masyarakat tidak dapat terselesaiakan atau tidak mendapat jalan tengahnya, maka sebuah pertentangan tersebut akan menjadi sebuah konflik. Konflik akan dapat berujung kepada pemecahan suatu kelompok atau disintegrasi kelompok tersebut yang dapat berujung kepada pembubaran kelompok itu sendiri.

Sama halnya akan sebuah negara, dimana bila ada salah satu kelompok atau individu dalam masyarakat dapat membuat suatu negara terdisintegreasi. Hal tersebut dinamakan pertentangan sosial. Pada zaman sekarang ini, pertentangan dalam suatu masyarakat dapat disampaikan langsung kepada wakil rakyat yang dinamakan dengan demonstrasi. Demonstrasi adalah sebuah tindakan dimana sekelompok rakyat menuntut keadilan dalam masalah seperti pertentangan dalam sosial.

Bila demonstasi adalah cara halus untuk menyikapi serta meluruskan perbedaan dan pertentangan, adapula cara ekstrim dalam menyikapi pertentangan sosial. Terorisme. Terorisme adalah suatu cara untuk menyikapi perbedaan dan pertentangan dalam sosial secara paksa. Dalam negara Indonesia, terorisme adalah hal yang sangat tidak berprikemanusiaan, karena dalam kasus – kasus terorisme di Indonesia, terorisme tidak segan – segan untuk merenggut nyawa. Hal ini terjadi saat timbul sebuah perbedaan dalam pendapat dan menimbulkan pertentangan seperti negara lain yang datang ke Indonesia di anggap sebuah ancaman, pertentangan dalam hal agama, pertentangan dalam hal sosial, dan konflik dalam politik-ekonomi.

Konflik (pertentangan) mengandung suatu pengertian tingkah laku yang lebih luas dari pada yang biasa dibayangkan orang dengan mengartikannya sebagai pertentangan yang kasar atau perang. Dasar konflik berbeda-beda. Terdapat 3 elemen dasar yang merupakan cirri-ciri dari situasi konflik yaitu :
1.  Terdapatnya dua atau lebih unit-unit atau baigan-bagian yang terlibat di dalam konflik
2.  Unti-unit tersebut mempunyai perbedaan-perbedaan yang tajam dalam kebutuhan-kebutuhan, tujuan-tujuan,  masalah-masalah, nilai-nilai, sikap-sikap, maupun gagasan-gagasan.
3.  Terdapatnya interaksi di antara bagian-bagian yang mempunyai perbedaan-perbedaan tersebut.

Konflik merupakan  suatu tingkah laku yang dibedakan dengan emosi-emosi tertentu yang sering dihubungkan dengannya, misalnya kebencian atau permusuhan. Konflik dapat terjadi paa lingkungan yang paling kecil yaitu individu, sampai kepaa lingkungan yang luas yaitu masyarakat.
1. Pada taraf di dalam diri seseorang, konflik menunjuk kepada adanya pertentangan, ketidakpastian, atau emosi-emosi dan dorongan yang antagonistic didalam diri seseorang
2. Pada taraf kelompok, konflik ditimbulkan dari konflik yang terjadi dalam diri individu, dari perbedaan-perbedaan pada  para anggota kelompok dalam tujuan-tujuan, nilai-nilai, dan norma-norma, motivasi-motivasi mereka untuk menjadi anggota kelompok, serta minat mereka.
3.  Pada taraf masyarakat, konflik juga bersumber pada perbedaan di antara nilai-nilai dan norma-norma kelompok dengan nilai-nilai an norma-norma kelompok yang bersangkutan berbeda. Perbedan-perbedaan dalam nilai, tujuan dan norma serta minat, disebabkan oleh adanya perbedaan pengalaman hidup dan sumber-sumber sosio-ekonomis didalam suatu kebudayaan tertentu dengan yang ada  dalam kebudayaan-kebudayaan lain.

Adapun cara-cara pemecahan konflik tersebut adalah :
1.  elimination; yaitu pengunduran diri salah  satu pihak yang telibat dalam konflik yagn diungkapkan dengan : kami mengalah, kami mendongkol, kami keluar, kami membentuk kelompok kami sendiri.
2.  Subjugation atau domination, artinya orang atau pihak yang mempunyai kekuatan terbesar dapat memaksa  orang atau pihak lain untuk mentaatinya.
3. Majority Rule artinya suara terbanyak yang ditentukan dengan voting akan menentukan keputusan, tanpa mempertimbangkan argumentasi.
4.  Minority Consent; artinya kelompok mayoritas yang memenangkan, namun kelompok minoritas tidak merasa dikalahkan dan menerima keputusan serta sepakan untuk melakukan kegiatan bersama.
5. Compromise; artinya kedua atau semua sub kelompok yang telibat dalam konflik berusaha mencari dan mendapatkan jalan tengah
6.  Integration; artinya pendapat-pendapat yang bertentangan didiskusikan, dipertimbangkan dan ditelaah kembali sampai kelompok mencapai suatu keputusan yang memuaskan bagi semua pihak.

Bila konflik atau pertentangan ini terjadi terus menerus, kehancuran atau perpecahan sebuah negara tidak akan terelakkan lagi. Bila hal tersebut terjadi, tidak mustahil suatu daerah akan memisahkan diri dari negaranya dan membentuk negara baru. Hal ini juga dapat membuat keengganan masyarakat dalam berpartisipasi dalam kenegaraan yang dapat di sebut disintegrasi. Setiap negara harus menjaga ke-integrasi-annya agar negara menjadi kokoh tidak goyah akan halangan dan rintangan. Oleh sebab itu, marilah hadapi perbedaan dengan damai, dan setiap pertentangan dengan kepala dingin. Setiap masalah pasti mempunyai jalan keluar.

Referensi :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar